Beranda > Minang Kabau > WILAYAH MINANGKABAU

WILAYAH MINANGKABAU

Sumatera Barat merupakan salah satu propinsi yang terletak di Pulau Sumatera. Daerah Sumatera Barat yang kita kenal sekarang, tidak sama dengan daerah yang dulu. Wilayah Minangkabau tidak hanya seluas wilayah Propinsi Sumatera Barat seperti yang ada avang, tetapi juga ditambah sebagian daerah pada propinsi-propinsi tetangga, yaitu sebagian Propinsi Riau, sebagian Propinsi Jambi, dan sebagian Propinsi Bengkulu. Hal ini sesuai tambo Minangkabau:

Nan salilik Gunuang Marapi
Saedaran Gunuang Pasaman
Sajajran Sago jo Singgalang
Saputaran Talang jo Kurinci
Dari sirangkak nan badangkang
Hinggo buayo putiah daguak
Sampai ka pinto rajo hilie
Hinggo durian ditakuak rajo
Sapisai-pisau hanyuik
Sialang balantak basi
Hinggo aia babaliak mudiak
Sampai ka ombak nan badabua
Sailiran batang sikilang
Hinggo lawuik nan sadidieh
Ka timua ranah Aia Bangih
Rao jo Mapat Tunggua
Gunuang Mahalintang
Pasisie Rantau Sapuluah
Hinggo Taratak Aia Itam
Sampai ka Tanjuang Simalidu,
Pucuak Jambi Sambilan Lurah

Sesuai dengan tambo tersebut, batas-batas wilayah Minangkabau dapat dinyatakan sesuai arah mata angin. Batas-batas daerah Minangkabau itu adalah:
Batas wilayah daratan
Sebelah utara dibatasi oleh Rao Mapat Tunggul.
Sebelah timur dibatasi oleh Tanjung Simalidu.
Sebelah tenggara dibatasi oleh Muko-Muko.
Sebelah barat laut dibatasi oleh Gunung Mahalintang.
Batas dengan lautan
Sebelah barat dan barat daya dibatasi oleh Samudera Hindia.
Sebelah utara, timur, dan timur laut dibatasi oleh SelatMalaka.

Selain itu, Negeri Sembilan di Malaysia juga dulunya merupakan bagian dari wilayah Minangkabau. Hal ini berasal dari para pedagang Minangkabau yang berlayar hingga ke negeri seberang, dan mendirikan Negara di sana. Hal ini menandakan bahwa begitu luas dan tersebarnya wilayah Minangkabau zaman dahulu. Jadi, dapat disimpulkan wilayah Minangkabau yang sebenarnya lebih besar dari wilayah administratif Sumatera Barat sekarang.

Pemakaian nama Sumatera Barat dan pergeseran batas-batas wilayah Minangkabau itu diawali sejak masuknya kolonial Belanda. Saat itu wilayah Minangkabau disebut sebagai Residentie vant Sumatra Westkust. Setelah era kemerdekaan pun Sumatera Barat masih sering disebut dengan “Minangkabau”, yang wilayahnya berbatasan dengan Sumatera Utara di sebelah utara, Jambi dan Riau di sebelah selatan, Samudera Hindia di sebelah barat, dan Riau di sebelah timur (Samad, 2002: 103). Jadi, wilayah Minangkabau saat ini sama dengan wilayah Provinsi Sumatera Barat, tanpa Kepulauan Mentawai. Di wilayah inilah Salawat Dulang lahir dan terus berkembang hingga saat ini.

Dalam konteks sosial budaya, wilayah Minangkabau ini terbagi lagi atas tiga, yaitu wilayah darek (darat), pasisia (pesisir), dan rantau. Wilayah darek ini dianggap sebagai sumber dan pusat adat Minangkabau, dan terletak di dataran tinggi. Wilayah ini terbagi lagi atas tiga wilayah yang disebut luhak, yaitu Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Limo Puluh Koto. Kota-kota yang termasuk ke dalam tiga luhak ini antara lain Bukittinggi, Payakumbuh, Lubuk Basung, dan Batu Sangka (Amir, 1998: 11).

Wilayah pasisia (pesisir) adalah wilayah yang berada di sepanjang pantai, mulai dari Padang Pariaman, Painan, dan Pasisia Selatan. Wilayah rantau adalah wilayah yang dulunya berada di bawah pengaruh kerajaan Minangkabau atau wilayah yang merupakan perluasan kerajaan Minangkabau. Wilayah tersebut antara lain Air Bangis, Lubuak Sikapiang, Kerinci, Indrapura, Muara Labuh, Bangkinang, Lembah Kampar Kiri, Kampar Kanan, dan Rokan (Samad, 2002: 105). Menurut Mansoer, (1970: 3) pengertian wilayah rantau saat ini sudah mengalami perluasan. Wilayah rantau adalah tempat berusaha, mencari ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman bagi orang Minang, di luar wilayah Minangkabau.

Kondisi topografis wilayah Minangkabau tidak hanya datar. Di wilayah ini terdapat bukit-bukit (di antaranya Bukit Barisan), gunung (Marapi, Singgalang, Talang), sungai, dan danau (Maninjau, Singkarak, Danau Ateh dan Bawah). Selain masih didominasi oleh hutan-hutan, curah hujan pun cukup tinggi sehingga tanahnya pun subur. Jika dikaitkan dengan tradisi dan kesenian Minang, kondisi daerah yang berbukit-bukit dan kadang terpisah oleh jarak ini sangat mungkin menjadi sebab munculnya beberapa tradisi dan kesenian yang hanya dimiliki oleh daerah tersebut (tidak tersebar luas di wilayah Minangkabau).

Pembagian Wilayah Minangkabau

–>>Daerah darek (luhak)

Daerah ini adalah sebutan untuk daerah asli Minangkabau. Meliputi 3 daerah yang disebut juga dengan Luhak nan Tigo, yakni Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Lima Puluh Kota. Yang dikatakan Luhak Tanah Datar adalah daerah Kabupaten Tanah datar sekarang, sebagian Sawahlunto Sijunjuang, dan Solok. Yang disebut Luhak Agam terdiri atas Ampek-Ampek Angkek, Lawang nan Tigo Balai, dan Nagari sakaliliang Danau Maninjau. Sedangkan Luhak Lima Puluh Kota adalah daerah yang terletak di sepanjang Batang Sinamar, daerah sekitar gunung Sago bagian utara dan barat, seiliran Batang Lampasi dan Batang Agam, bahkan sampai ke Sipisak pisau Anyuik (Pekanbaru sekarang).

–>>Daerah rantau

Daerah ini merupakan tempat merantau bagi orang-orang dahulu. Dari Luhak Nan Tigo mereka pergi ke daerah lain dan membuat negeri baru di sana. Di situ mereka tetap memakai adat seperti adat daerah yang mereka tinggalkan. Hubungan mereka tidak putus dengan negeri asal mereka di Luhak Nan Tigo. Umumnya, daerah ini berada di sepanjang aliran sungai dan bermuara ke timur, ke selat Malaka, bahkan termasuk Rantau nan Sembilan (Negeri Sembilan, di Malaysia sekarang). Daerah rantau Minangkabau dikenal juga dengan sebutan Rantau Nan Tujuah Jurai, yaitu Rantau Kampar, Kuantan, XII Koto, Cati Nan Batigo, Negeri Sembilan, Tiku Pariaman, dan Pasaman. Daerah Tiku Pariaman dan Pasaman dikenal juga sebagai daerah pasisie.

–>>Daerah pasisie

Daerah ini meliputi daerah sepanjang pantai sebelah barat pulau Sumatera yang memanjang dari barat laut ke tenggara. Dalam tambo disebutkan bahwa daerah pasisia yaitu: daerah nan nagari-nagarinya talatak, sabalah matohari ka tabanam, nan mamanjang dari utara ke selatan. Jadi, daerah ini mulai dari perbatasan daerah Minangkabau dengan daerah Bengkulu sekarang, yaitu Muko-Muko, sampai ke perbatasan Minangkabau dengan daerah Tapanuli bagian selatan.

Daftar Pustaka

  1. Amir, Adriyetti, dkk. “Pemetaan Sastra Lisan Minangkabau” Laporan Penelitian. Jakarta : Asosiasi Tradisi Lisan, 1998.
  2. Mansoer, M.D., dkk. Sedjarah Minangkabau. Jakarta: Bharata, 1970.
  3. Samad, Duski, dkk. Ensiklopedia Minangkabau. Jakarta: PT Rumpun Dian Nugraha dan Gebu Minang, 2002.
  4. http://alangbabega.uni.cc/minangkabau/wilayah-budaya-dan-wilayah-geografis-minangkabau/
  5. http://urangawak.t35.com/wilayah.htm
Iklan
Kategori:Minang Kabau
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: